Senin, 09 Mei 2011

Pengalaman Pertama Menghafal Al Quran

 Sedikit bercerita tentang pengalaman pertama penulis saat menghafal al Quran. Kala itu penulis tengah duduk di semester ketiga di perjalanan menempuh pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Entah mengapa timbul niat yang begitu menggebu untuk menjaga keotentikan Kalam Allah ini. Penulis pun mencoba membaca dan mengulang ayat demi ayat, menjejalkannya ke dalam otak full memory-nya. Beberapa lembar berhasil dihafalkannya dalam jangka waktu beberapa hari. Penulis pun semakin optimis. Ia pun menuliskan jadwal jangka panjangnya dalam menghafal al Quran. Saat ia lulus dari Kampus Ulul Albab ini, ia berharap dapat menamatkan hafalannya.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Niat baik itupun kemudian terealisasi seiring dengan digelarnya kegiatan Karantina Tahfidz II di libur semester ganjil 2010 lalu. Tanpa pikir panjang, penulis pun ikut serta di dalamnya. Libur kala itu seakan menjadi liburan yang paling berkesan. Meninggalkan kesempatan berkumpul dengan keluarga, mengabaikan kesempatan berpelesir ke tempat wisata, dan sebagainya. Penuh perjuangan, mungkin hanya itu yang dapat terucap.

Setelah dua puluh sembilan hari berkutat dengan rangkaian ayat, tiba saatnya untuk ujian. Satu-persatu peserta karantina diuji ingatannya dengan melanjutkan rangkaian ayat yang dibacakan sang penguji. Ketika itu penulis berhasil menghafalkan satu juz pertama dari al Quran. Dag dig dug rasanya jantung ini, serasa ingin melompat keluar dari ruangnya. Lidah serasa kelu melantunkan ayat suci-Nya. Takut, malu, grogi, bercampur menjadi satu. Namun entah mengapa, begitu giliran tiba, semua perasaan tidak nyaman tersebut seketika sirna. Nyaman dan mengalir, hatipun serasa tenang. Subhanallah..mungkin ini mukjizat al Quran, penulis sedang merasakannya. Membawa ketenangan, kesejukan, dan ketentraman dalam hati sanubari.

Usai karantina tahfidz, semangat ini tiba-tiba menjadi kendor. Sebagian besar waktu tersita oleh kegiatan-kegiatan lain yang melenakan. Hafalan pun tertinggalkan. Hampir setahun lamanya hal ini terus berlarut-larut. Ketika melihat rekan-rekan yang lain menghafal al Quran, selalu ada rasa bersalah yang terbersit dalam hati. Ada penyesalan di dalam sanubari. Rasanya ingin kembali menghafalkan ayat suci-Nya. Atas kehendak-Nya, hati penulis kembali terbuka untuk kembali terjun di dunia yang sempat ia tinggalkan. Meskipun tak seistiqomah saat karantina tahfidz lalu, penulis tetap berusaha menghafal ayat demi ayat di juz berikutnya. Ihdinash shiraathal mustaqiim Yaa Rabb.

Budaya Membaca


Membaca merupakan jendela dunia. Pepatah tersebut mungkin sudah ribuan kali terdengar di telinga, terpampang sebagai slogan, tercetak dalam lembaran buku, dsb. Namun sangat jarang yang dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Di kota Kota Bukittinggi berdiri sebuah perpustakaan umum yang megah bernama Pustaka Daerah Bung Hatta. Perpustakaan yang dibuka sejak 21 September 2006 memiliki koleksi buku sebanyak 93.375 buah, yang tersebar pada berbagai disiplin ilmu seperti agama, sejarah, keterampilan dan umum. Meskipun perpustakaan ini cukup besar, namun kurang dimanfaatkan secara maksimal. Jumlah kunjungan setiap harinya hanya mencapai 300-400 orang yang didominasi oleh kalangan pelajar/mahasiswa. Padahal pengelola perpustakaan ini sudah berusaha menarik para pengunjung diluar dari pelajar/mahasiswa dengan cara meluncurkan “Program Family Member”.[1]

Potret tersebut membuktikan bahwa minat baca di kalangan masyarakat Indonesia begitu rendah. Hal tersebut tentu tertolak belakang dengan wahyu yang pertama kali disampaikan Jibril kepada Muhammad saw.
إقرأ بالسم ربك الذي خلق
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Iqra’, bacalah!. Ayat tersebut jelas memerintahkan kepada umat muslim untuk melestarikan budaya membaca. Membaca segala sesuatu yang dapat dibaca, mulai dari al-Qur’an, buku teks, majalah, koran, dan sebagainya. Dalam ayat tersebut Allah tidak memerintahkan untuk membaca kalam-Nya saja, melainkan membaca segala sumber bacaan yang bersifat global.

Maka dari itu, sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita melestarikan budaya membaca. Sebab membaca merupakan salah satu bentuk ketaatan seorang muslim terhadap perintah Tuhan-Nya. Seorang muslim yang tidak gemar membaca secara tidak sadar telah melanggar firman Allah swt. Na’udzubillahi min dzalik.



[1] Muslimin Beta, Mewujudkan Masyarakat Pembelajar (On Becoming a Learning Society) Dalam Rangka Terciptanya Masyarakat Cinta Perpustakaan, diakses dari http://perpustakaan.teratama.com/ pada 23 Oktober 2010.